Saturday, 5 January 2013

Review: Demi Ucok (2013)

"Jangan terkecoh judul, Ucok bukan nama tokoh di film ini."
Sutradara & penulis naskah: Sammaria Simanjuntak. Cast: Geraldine Sianturi, Linda Marpaung, Sunny Soon, Saira Jihan. Studio: Royal Cinema Multimedia. Durasi: 79 menit.


Nama Sammaria Simanjuntak sebagai sutradara mulai terangkat ketika filmnya yang bertema tentang kisah cinta beda agama, Cin(T)a, mencuri perhatian penikmat film Indonesia di tahun 2009. Apalagi Cin(T)a berhasil memenangi penghargaan Penulis Skenario Cerita Asli Terbaik di Festival Film Indonesia pada tahun yang sama. Tiga setengah tahun kemudian, atau lebih tepatnya Januari 2013 ini, film kedua Sammaria yang berjudul Demi Ucok tayang di layar lebar. Sebuah film dengan genre drama-komedi satir yang menampilkan kisah antara seorang ibu dan anak dengan konsep budaya Batak.

Demi Ucok menceritakan kehidupan seorang Gloria Sinaga (Geraldine Sianturi), sutradara film yang meraih sukses di film debutnya. Tapi siapa sangka kelanjutan karier Glo, sapaan akrabnya, di dunia film harus tertunda karena dua masalah klasik: dana dan ide cerita. Hampir empat tahun lamanya (persis seperti jangka waktu antara Cin(T)a dan Demi Ucok) Gloria tak menyentuh naskah ataupun sekedar berniat memulai proyek film baru. Belum lagi ibu Gloria yakni Mak Gondut (Lina Marpaung) adalah seorang penganut teguh kebudayaan Batak yang selalu 'mencecar' Glo agar segera menikah di usianya yang sudah memasuki 29 tahun. Gloria juga mengalami dilema karena Mak Gondut memberikan tawaran, jika Gloria mau menikah, maka ia akan memberikan bantuan budget untuk proyek film baru sang anak. Drama antara ibu dan anak inilah yang menjadi fokus utama, diselingi komedi-komedi ringan yang sayangnya hanya terbangun hingga pertengahan film.

Mak Gondut: "Ntar mami kasih kau 1M, asal kawin ama batak." 


Memasuki pertengahan film, tensi cerita mulai melemah, dan storyline yang sudah terbangun cukup rapi dari awal film mulai jatuh secara perlahan. Kepayahan? Ya. Jalan cerita mulai menumpuk dan ini berlangsung hingga film selesai. Padahal durasi film yang di bawah 90 menit seharusnya bisa lebih di-eskplor oleh Sammaria supaya storyline film ini tidak kendor. Meski begitu, akting Geraldine dan Lina cukup memuaskan, dan chemistry antara mereka terbangun dengan baik. Aktris pendukung sperti Sunny Soon dan Saira Jihan juga tampil dengan baik meski porsinya tidak terlalu banyak. Adapun skrip film ini cukup memuaskan, terlihat dari dialog-dialog ringan berisi komedi tentang kebudayan Batak, sosial, politik, hingga kondisi perfilman lokal yang dihadirkan lewat sindiran-sindiran satir tapi tidak berlebihan.

Satu hal lain yang patut disesali adalah teknik editing yang terkesan kurang layak untuk ukuran film layar lebar. Pengambilan adegan-adegannya terlihat kurang rapi dan di beberapa bagian tak berbeda jauh dengan sinetron. Ada beberapa perpindahan scene yang terburu-buru dan mengganggu kenikmatan menonton. Mungkin ini disebabkan oleh keterbatasan dana atau hal lain yang tidak saya ketahui, karena bisa dibilang Demi Ucok ini termasuk film independen. Khusus soundtrack, lagu-lagu dari band indie lokal Homogenic untuk mengiringi film ini adalah pilihan tepat.


Secara keseluruhan, Demi Ucok cukup menghibur meski tak mencapai taraf sangat memuaskan. Sebuah personalisasi terhadap kehidupan pribadi Sammaria yang ditampilkan secara sederhana, ringan, dan tidak bertele-tele. Ya, sosok Gloria di sini sebetulnya mencerminkan pribadi Sammaria, terlebih lagi sosok Mak Gondut di sini diperankan oleh ibunda Sammaria Simanjuntak sendiri. Akhir kata, Demi Ucok tidaklah mengecewakan sebagai pembuka perfilman lokal di tahun ini, meski masih terdapat kekurangan di sana-sini.

P.S: sutradara ternama Joko Anwar juga ikut main sebagai cast di film ini, tapi cuma nongol sebentar, ibarat Bruce Willis di film The Expendables.

Rate: 7 out of 10 stars / B-

1 comment: