Friday, 4 January 2013

Review: The Art of Getting By (2011)

 "The coming-of-age story of a young man who still trying to find the meaning of life."
Director and screenplay: Gavin Wiesen. Cast: Freddie Highmore, Emma Roberts, 
Michael Angarano, Blair Underwood, Alicia Silverstone. Runtime: 84 min.


We live and die alone, and everything else is just illusion.” Sebuah kalimat yang menjadi titik awal film ini, dimana George Zinavoy (Freddie Highmore), seorang pemuda yang mempunyai bakat melukis, memercayai kalimat tersebut benar adanya dan berprinsip bahwa hidup ini cuma 'numpang lewat'. Sikapnya yang acuh tak acuh terhadap lingkungan sekitarnya, terutama dunia pendidikan, membuat George berpetualang dalam dunianya sendiri dan seolah tak peduli terhadap pergaulan dengan orang lain. Hingga suatu hari George berkenalan dengan Sally Howe (Emma Roberts), teman sekelasnya yang membuat George menjadi sedikit lebih peduli terhadap orang lain.

Plot cerita film ini sekilas mirip dengan film rom-com remaja pada umumnya, tapi yang menjadi daya tarik di sini adalah hubungan antara George dan Sally sebetulnya hanya menjadi bumbu tambahan. Poin utama yang ditampilkan oleh Gavin Wiesen adalah penyampaian secara tersirat tentang kedua remaja tersebut yang sedang mencari jati diri mereka, dan tentu saja porsi kehidupan George yang lebih banyak disorot. Kehadiran Dustin (Michael Angarano), sebagai pembimbing George dalam menyelesaikan tugas-tugas sekolahnya yang menumpuk, juga menjadi bumbu pemanis lain, dimana akhirnya Dustin malah menjadi 'perusak' hubungan yang telah dibangun oleh George dan Sally.


Khusus terhadap penampilan karakter George, saya sangat sangat suka. Sifatnya yang acuh tak acuh, sakkarepe dewe, dan tetap realis walau dikejar berbagai masalah is so related to me. Film ini seolah jadi guilty pleasure buat saya, karena semasa SMA saya juga punya karakter seperti George, bedanya di sini saya sama sekali gak punya bakat dalam dunia gambar dan lukis.... hahaha.

George Zinavoy: "You treacherous, sadistic little hussy."
Sally Howe: "I love you too."

Chemistry yang dibangun antara Highmore dan Roberts di film ini terbilang lumayan. Highmore tampil memukau sebagai front-man, tak salah memang jika menyebut dia sebagai aktor masa depan hollywood paling berbakat saat ini. Tapi satu hal yang membuat dahi saya berkerut adalah akting Roberts di sini kurang, gak seperti di Scream 4 atau It's Kind of A Funny Story. Gak jelek sih, tapi dari awal film si cantik pujaan saya ini (halah) seperti gak menunjukkan perkembangan karakter. Justru Michael Angarano lumayan mencuri perhatian. Perannya sebagai Dustin terbilang bagus.


Poin lebih patut disematkan kepada Alec Puro. Komposer yang satu ini sukses menciptakan berbagai score yang sangat pas terhadap adegan-adegan di dalam Art of Getting By. "Sally's Theme dan Sally's Bedroom" jadi favorit saya, kedua lagu tersebut sangat cocok jadi lagu wajib sebelum tidur lewat melodi yang memanjakan telinga. Score yang bagus tentu membuat penonton serasa ikut bergabung dalam jalannya cerita, bukan?

Overall, usaha Gavin Wiesen dalam mengarahkan film debutnya di layar lebar patut diapresiasi. Dalam pengalamannya sebagai director yang masih "hijau", Wiesen berhasil menghadirkan sebuah film rom-com yang enjoyable, fun, simple, bahkan bisa bikin senyum-senyum sendiri. Meski bukan tipe film yang patut ditonton berkali-kali, Art of Getting By punya karakterisasi sendiri yang membuat film ini berbeda dengan film-film rom-com lain. Banyak pesan moral juga yang disematkan di film ini, terutama soal motivasi hidup. Sebuah perpaduan drama, romance, dan comedy yang pas dan gak berlebihan.


Rate: 8 out of 10 / B.

2 comments: